UPAYA PERBAIKAN PRODUKTIFITAS DAN MUTU KAKAO DI SULAWESI SELATAN

Tanaman kakao (Theobroma cacao, L) adalah salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan di Sulawesi Selatan, karena memiliki areal yang cukup luas dan menyebar di seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan, serta memberikan kontribusi yang cukup besar bagi propinsi Sulawesi Selatan. Disamping itu, sampai saat ini kakao masih memiliki prospek pasar yang cukup baik dibanding komoditas perkebunan lainnya.

Luas perkebunan kakao di Sulawesi Selatan tahun 2000 adalah 240.785 Ha yang sebagian besar ( + 98 % ) merupakan pertanaman rakyat, dan sisanya merupakan pertanaman kakao milik Perkebunan Besar Swasta ( PBS ). Dari luas pertanaman kakao tersebut diatas melibatkan 281.053 KK petani, sedangkan jumlah produksi kakao di Sulawesi Selatan tahun 2000 adalah sebesar 210.367 ton biji kakao kering  dan ini. masih jauh dari produksi potensi dari kakao yaitu  1500 – 2500 kg perhektar (Iswanto.A 2000). Dari jumlah produksi yang dihasilkan oleh Sulawesi Selatan  tersebut sebagian besar di pasarkan ke luar negeri (ekspor) seperti di Eropa, Amerika dan negara-negara pengimpor lainnya (Anonim, 2001).

Mengingat bahwa kakao merupa-kan salah satu komoditas andalan di Sulawesi Selatan yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejah-teraan petani, maka pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan memberikan perhatian khusus pada pengembangan kakao tersebut. Hal ini terbukti dengan diben-tuknya sentra pengembangan kakao yang popular dengan akronim “MANDALU “.

Mandalu merupakan singkatan dari Mandar-Luwu yaitu suatu kawasan yang terdiri dari lima kabupaten yaitu Kabupaten Polmas, Majene, Mamuju serta Kabupaten Luwu dan Luwu Utara Kelima kabupaten ini merupakan pusat pengem-bangan kakao di Sulawesi Selatan karena pada wilayah tersebut terdapat lebih dari 50 % dari areal pertanaman kakao di Sulawesi Selatan, disamping itu kawasan tersebut memang sesuai untuk pengem-bangan kakao jika dilihat dari segi agro-klimat. Dengan adanya pusat pengem-bangan kakao pada lima kabupaten di kawasan Mandalu, tidak berarti bahwa pengembangan kakao di kabupaten lain tidak dilaksanakan lagi, akan tetapi pengembangan kakao di luar kawasan Mandalu tetap di laksanakan terutama pada daerah-daerah yang memang potensial untuk pengembangan kakao seperti Kabupaten Pinrang, Sidrap, Bantaeng,  dan lain-lain.

Di sisi lain ternyata pengem-bangan areal tanaman kakao ini tidak dibarengi dengan peningkatan mutu biji kakao yang dihasilkan.  Rendahnya mutu biji kakao tersebut disebabkan karena faktor teknis dan faktor nonteknis.  Faktor teknis bersumber dari kurang tepatnya kesesuaian lahan dan  benih yang digunakan, pemeliharaan kebun (terutama teknik pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian serangan hama dan penyakit), hingga proses pascapanen (terutama proses fermentasi).  Sedangkan faktor nonteknis antara lain modal, sikap terhadap teknologi, pendidikan, penga-laman, umur, dan kurangnya penyuluhan (Anonim, 2001).

Rendahnya produktivitas kakao di Sulawesi Selatan juga terungkap pada Lokakarya dan pertemuan Internasional yang dilaksanakan oleh proyek SUCCES bekerja sama dengan CCDC tahun 2002, bahwa negara-negara bayers (importir) kakao terutama USA menilai mutu biji kakao Sulawesi Selatan tergolong rendah sehingga dikenakan automatic detention sebesar $ 0,12 – 0,17 per kg (Ala dan Muhidong, 2002).

Berbagai kesempatan dan kelemahan petani ini kadang-kadang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu (misalnya pedagang pengumpul pada tingkat desa) yang mempermainkan harga ditingkat petani dengan alasan mutu kakao yang mereka hasilkan rendah.  Cepatnya terjual biji kakao  tanpa melalui proses fermentasi juga merupakan salah satu strategi yang dilakukan para pedagang pengumpul untuk menggiring petani menghasilkan kakao dengan mutu rendah (tanpa proses fermentasi).

Secara alamiah proses yang demikian berlangsung karena adanya kesepakatan dan kepentingan kedua belah pihak (petani dengan pedagang pengumpul).  Bagi petani tentu ada alasan-alasan tersendiri sehingga mereka mau melakukan hal yang demikian.  Oleh karena itulah untuk mengetahui latar belakang dan berbagai permasalahan yang mengakibatkan rendahnya mutu kakao yang dihasilkan,  perlu adanya suatu penelitian untuk mengkaji secara komprehensif faktor-faktor yang menye-babkan rendahnya mutu kakao yang dihasilkan petani.  Dengan demikian diha-rapkan upaya untuk mengatasi permasa-lahan rendahnya produktifitas dan mutu biji kakao yang dihasilkan dapat dilakukan secara efektif dan efisien Dengan melihat aspek Sosial dan Ekonominya.

Sumber: http://www.litbangda-sulsel.go.id

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.