Hasil penelitian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PPKK) Jember menunjukkan bahwa limbah kakao (kulit dan plasenta) mengandung serat, protein, lemak serta sejumlah asam organik dan berpotensi menjadi bahan pakan ternak kambing. Penelitian ini juga mendukung program integrasi tanaman perkebunan dengan ternak yang secara luas sudah terbukti mampu meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman serta meningkatkan pendapatan pekebun.
Pemberian hasil olahan limbah kakao sebagai pakan kambing mampu mengurangi porsi pemberian rumput yang harus disediakan peternak, khususnya pada usaha pola intensif (dikandangkan). Hasil pengamatan usaha pola integrasi tanaman perkebunan dengan ternak di Propinsi Lampung menunjukkan, bahwa olahan limbah kakao yang diberikan peternak sebagai pakan kambing mencapai 2-3 kg/ekor/hari pada ternak dewasa. Ini cukup membantu peternak dalam mensuplai pakan kambing yang dinyatakan mampu menghemat tenaga kerja penyedia pakan hijauan mencapai 50%. Teknologi ini juga mendukung program integrasi yang secara luas sudah terbukti mampu meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman serta meningkatkan pendapatan pekebun.
Disamping itu pemanfaatan limbah menjadi bahan baku bagi proses produksi berikutnya merupakan upaya memperpanjang rantai nutrisi dan energi yang dalam konteks ekologi merupakan tindakan efisiensi yang sangat bermanfaat terkait dengan sustainable agriculture.