Arsip untuk April 24, 2008

KaKaO…

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta.

Perkebunan kakao Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak awal tahun 1980-an dan pada tahun 2002, areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha dimana sebagian besar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Disamping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Keberhasilan perluasan areal tersebut telah memberikan hasil nyata bagi peningkatan pangsa pasar kakao Indonesia di kancah perkakaoan dunia. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai produsen kakao terbesar kedua dunia setelah Pantai Gading (Cote d’Ivoire) pada tahun 2002, walaupun kembali tergeser ke posisi ketiga oleh Ghana pada tahun 2003. Tergesernya posisi Indonesia tersebut salah satunya disebabkan oleh makin mengganasnya serangan hama PBK. Di samping itu, perkakaoan Indonesia dihadapkan pada beberapa permasalahan antara lain: mutu produk yang masih rendah dan masih belum optimalnya pengembangan produk hilir kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.

Komentar bertahan »

Hama Pada Kakao

Di tengah kegundahan petani di Pulau Sulawesi akan serangan hama penggerek buah kakao, sebuah inspirasi muncul dari Universitas Hasanuddin. Hama yang “membusukkan” buah kakao tersebut ternyata bisa diatasi secara alami dan tidak menambah beban biaya bagi petani.

Pada perkebunan kakao di beberapa daerah—Bone, Soppeng, dan Luwu—terdapat sekurang-kurangnya tujuh spesies semut. Dari tujuh spesies itu terdapat empat spesies yang memangsa hama penggerek buah kakao, yaitu Oecophylla smaragdina (semut rangrang), Crematogaster sp (semut hitam), Anoplolepis longipes, dan Iridomyrmex sp.

Khusus pada kasus serangan hama penggerek batang kakao, masalah itu berawal dari ulah serangga tertentu yang menebarkan larva ke lekukan kulit buah kakao. Selang 4-5 hari, larva menetas dan muncullah mikroorganisme yang menggerek buah kakao hingga biji. Akibat terlumatnya plasenta buah, biji kakao langsung menghitam, mengeras, mengering, dan menempel pada kulit buah kakao. Seketika biji kakao itu tak berharga lagi.

Semut rangrang (berwarna merah) merupakan predator yang memiliki tingkat pengendalian paling tinggi. Sementara Iridomyrmex membawa dan menyebarkan spora-spora cendawan Phytophthora yang menyebabkan penyakit busuk buah kakao dan penyakit kanker batang.

Dengan adanya semut rang- rang di pohon kakao, aktivitas penebaran larva hama penggerek batang kakao bisa dikendalikan. Jadi, sesungguhnya hama yang menghancurkan buah kakao merupakan sebangsa serangga juga.

 

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.